Jumat, 24 Juli 2026

KAI & INKA Mulai Merger

Rabu, 22 Juli 2026 20:23
Ilustrasi layanan kereta api Ekonomi yang mendapatkan subsidi (Dok Kemenhub)
Ilustrasi layanan kereta api Ekonomi yang mendapatkan subsidi (Dok Kemenhub)

Suara Pembaca, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA memulai proses integrasi strategis sejak Selasa 21 Juli 2026. Kedua perusahaan melakukan kick off integrasi perusahaan tersebut.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran Danantara Asset Management, direksi KAI dan INKA, tim Project Management Office atau PMO, konsultan, serta jajaran pimpinan kedua perusahaan. Integrasi diarahkan untuk menyelaraskan proyeksi kebutuhan layanan kereta api dengan kemampuan industri manufaktur nasional.

Senior Vice President Business Performance & Asset Optimization Cluster Logistic Danantara Asset Management Desty Arlaini mengatakan, proses integrasi perlu diawali dengan kesamaan visi dari seluruh jajaran pimpinan dan insan kedua perusahaan.

"Seluruh pimpinan perlu memiliki visi yang sama, membangun nilai bersama, dan menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai orientasi utama. KAI dan INKA harus menjadi satu tim yang saling menghormati kompetensi masing-masing," ujar Desty dalam keterangan resmi KAI, Rabu (22/7/2026).

Sebelumnya, KAI sempat menyatakan merger dengan INKA akan rampung tahun ini. Setelah merger, KAI akan berperan sebagai holding atau perusahaan induk. Sementara INKA menjadi sub holding.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, integrasi KAI dan INKA membuka peluang besar bagi pengembangan industri manufaktur kereta api Indonesia. Kebutuhan sarana dalam jangka panjang membutuhkan perencanaan yang semakin terhubung antara KAI sebagai operator dan INKA sebagai produsen.

Salah satu potensi terbesar berasal dari kebutuhan Kereta Rel Listrik atau KRL. Berdasarkan perhitungan awal KAI, kebutuhan KRL hingga 2040 diproyeksikan mencapai sekitar 156 rangkaian.

Proyeksi tersebut menunjukkan besarnya ruang pengembangan bagi industri manufaktur nasional. Pemenuhannya membutuhkan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap, penguatan penguasaan teknologi, kepastian kualitas, serta keselarasan antara kebutuhan operator dan kemampuan produsen.

"Kebutuhan sekitar 156 rangkaian KRL hingga 2040 memberikan gambaran besarnya peluang pengembangan industri ini. Angka tersebut belum mencakup kebutuhan Kereta Rel Diesel, sarana kereta api jarak jauh, lokomotif, serta sarana untuk layanan barang," kata Bobby.

Menurut Bobby peluang tersebut menjadi salah satu alasan KAI mendukung proses integrasi dengan INKA. Hubungan yang semakin terkoordinasi antara operator dan produsen diharapkan dapat memperkuat kepastian kebutuhan, kesiapan produksi, serta pengembangan sarana yang sesuai dengan karakter layanan di Indonesia.

LOGIN

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

DAFTAR

Sudah Memiliki Akun Login di Sini

RESET PASSWORD

Masukan alamat email yang terdaftar untuk mereset password